Ediyanto Hidupnya Ngenes..!! Para Dermawan Tersentuh untuk Ringankan Beban

KLATEN – Ediyanto (13 th), siswa kelas VII D SMPN 1 Trucuk, Klaten, terlihat tegar saat belajar di ruang kelas. Siang itu, Ediyanto menemui dua gurunya di SMPN 1 Trucuk, Kristianti dan Sri Rejeki. Kepada keduanya, siswa yang tinggal di Dukuh Talang Kauman, RT 2/RW 2, Desa Talang, Kecamatan Bayat, Klaten itu, mengaku belum makan selama sehari. Ayahnya Supono (55 th) dan ibunya Tuminah (50 th), sudah cerai kisaran 3 tahunan lalu karena keadaan ekonomi susah, sehingga tak bisa ngopeni Ediyanto dengan baik seperti anak-anak keluarga lainnya.

Mendengar penuturan Ediyanto ini, kedua guru tersebut kaget dan tak menduga kalau Ediyanto yang pendiam dan tidak neka-neko itu belum makan seharian. Langsung saja, Ediyanto diberikan uang jajan untuk beli makanan. Betapa lahap Ediyanto menyantap makanan yang dibelinya. Kepala SMPN 1 Trucuk Drs Eguh Setyo Surono sudah memberikan pemihakan kepada Ediyanto, seperti beasiswa dan ada urunan guru-guru untuk sekedar uang jajan bagi Ediyanto.

Kalau ada mie rebus, maka Ediyanto langsung memasaknya dan kalau pas nggak ada apa-apa, kadangkala menjual gas 3 kg untuk diganti makanan. Kondisi ekonomi yang serba susah, membuat Ediyanto tetap tegar, dan kadangkala terpaksa harus keliling kampung di lain desa dengan mengamen bersama kakaknya.  “Saya inginnya bisa makan, kalau nggak punya uang, kadang ngamen keliling kampung dengan kakak. Saya tiap hari kagen sama ibuk, susah nek ibuk ndak di rumah,” celethuk Ediyanto kepada wartawan sambil menangis.

Camat Bayat Edy Purnomo saat berkunjung ke rumah Ediyanto di Talang Kauman, Jumat siang, 3 Februari 2017.

Menurut Eguh, mendengar cerita Ediyanto yang memang ngenes ini, sejumlah guru SMPN 1 Trucuk mendatangi tempat tinggal bocah yang hidup tanpa bimbingan orangtuanya. Selama ini, Ediyanto tinggal di rumah yang atapnya bocor, lantai masih asli tanah belum diplester, lampu penerang hanya 5 watt. Ruang an pengap dan tidak ada ventilasi udara dari atap rumah maupun dinding rumah.

Bahkan kalau mandi terpaksa di samping rumah yang kenyataannya belum punya kamar mandi atau pun water close (WC). Di depan rumah yang berdinding hancur alias sudah tak layak ditempati, ada genangan air hujan setinggi 20-30 cm terlihat. Dari pengamatan di rumah Ediyanto, pondasi tiang penyangga bagian atas rumah dan bambu penyangga genting sudah pada keropos.

“Rumah Ediyanto ini sangat tidak layak ditempati, kita tiap hari harus merelakan dan ikhlas memberikan uang jajan bagi Ediyanto. Orangtuanya sudah cerai, ayahnya di Semarang sebagai tukang becak dan ibunya minta cerai dan menikah lagi dengan warga di daerah Mojosongo, Boyolali. Pulangnya kadang tiga minggu sampai sebulan sekali,” jelas Eguh yang turut prihatin dengan kondisi Ediyanto ini.

Dengan penuh keprihatinan, Camat Bayat kadangkala berkunjung ke rumah Ediyanto dan berikan bantuan ala kadarnya.

Hal ini dikuatkan pula oleh Sri Rejeki, guru SMPN 1 Trucuk yang kebetulan mengetahui akan kondisi Ediyanto. Rumah Sri Rejeki sendiri berada di sisi utara  500 meteran rumah siswa sekolah ini yang tak terurus oleh orang tuanya ini. Ediyanto memang terlihat murung saat di kelas jika belum makan dan seringkali dibully teman-teman satu kelasnya. Sejumlah guru telah menegaskan agar siswa satu kelas Ediyanto tidak mengulangi lagi membully Ediyanto.

Kata Sri Rejeki, para guru semula tak percaya kalau kondisi Ediyanto ini ngenes dan sangat miskin. Untuk makan saja sangat susah dan hal ini membuat semangat kepedulian para guru untuk turut pula membantu. Karena kondisi dan ekonomi keluarga yang morat-marit, anak yang seharusnya mendapatkan perhatian orangtua ini, terpaksa hidup mandiri dan tegar menghadapi tantangan zaman. Ediyanto kalau ke sekolah naik sepeda onthel sejauh 1 km bersama teman-temannya.

“Kalau hujan, rumahnya trocoh, dingin, lembab, tidur di rumah yang gelap dengan 5 watt dayanya. Sudah tiga tahun ini, ibunya tinggal bersama ayah tirinya di Boyolali. Pernah ada guru yang tanya siswa satu kelas, siapa yang pernah makan sate ayem. Semua acungkan jari, kecuali Ediyanto yang tak mengacungkan jari. Benar-benar ngenes dan kasihan. Usai mengajar, guru tersebut langsung belikan sate ayem dan dikasihkan Ediyanto untuk menyantapnya,” ujar Sri Rejeki.

Ediyanto tunjukkan kompor gas andalan untuk memasak mie rebus atau mie goreng atau goreng telor jika lapar.

Camat Bayat Edy Purnomo SE bersama relawan dan wartawan, langsung meluncur ke kediaman Ediyanto dan memberikan bantuan ala kadarnya. Kadangkala Camat Edy membawa bungkusan mie dan uang jajan secukupnya. Camat Bayat juga kaget dengan kondisi rumah yang ditempati Ediyanto ini, sangat tidak layak dan harus ada kepedulian warga turut membantu.

Terkait kondisi rumah Ediyanto yang tinggal bersama dua kakaknya, Lilik (bekerja di Pabrik Garmen Besole Ceper) dan Budi (kelas 2 SMK Muhammadiyah Penggung), membuat warga dan sejumlah elemen masyarakat mau meluangkan waktu untuk membantu meringankan beban yang ditanggung keluarga miskin ini. Kakak pertama Ediyanto sudah menikah dan ikut mertuanya, dan sangat jarang mampir melihat kondisi rumah.

“Saya dengar LazisMuh Bayat membuat rencana anggaran belanja (RAB) bedah rumah Ediyanto ini sekitar Rp18 juta dan kenyataannya, ada sebuah komunitas yang siap mendukung, yaitu Keluarga Alumni Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS yang dikoordinir dr Husein dan dr Satimin. Bagus itu, semoga pemihakan dan amal sedekah para dokter alumni Fakultas Kedokteran UNS ini diterima Allah SWT dan bisa ditiru lembaga atau komunitas lainnya,” jelas Camat Edy Purnomo saat mengunjungi rumah ini, Jumat, 3 Februari 2017.

Dengan hati-hati, Ediyanto tunjukkan sumur dan tempat mandi yang sangat tak layak dan tidak sehat.

Tempat tinggal Ediyanto ini dipandang sangat tidak sehat, sebab tidak ada ruang cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah dan sarana MCK juga sangat tidak layak. Warga Talang Kauman juga merasa susah jika harus membantu merenovasi atau membedah rumah yang sangat tak layak dihuni ini. Meskipun dindingnya batu bata, tapi sudah rapuh dan atapnya juga sangat rawan ambruk. Kalau hujan deras, sering kebanjiran dan depan rumahnya juga air menggenang yang dikarenakan tak ada saluran resapan air.

Camat Bayat berharap, siapapun akan terketuk hatinya mendengar dan menyaksikan nasib yang harus dialami Ediyanto sekeluarga ini. Kalau memang LazisMuh Bayat sudah pasti bekerjasama dengan Keluarga Alumni Fakultas Kedokteran UNS yang ada di Klaten siap mendukung dan membedah rumah ini, Pemcam Bayat sangat berterima kasih. Dan hal ini sangat dinanti-nanti uluran tangannya yang memang murni pyur demi membantu mengentaskan kemiskinan dan mengurangi beban warga miskin.

“Kita tunggu eksen nyata dari teman-teman LazisMuh Bayat bersama Keluarga Alumni Fakultas Kedokteran UNS dan terima kasih atas kepeduliannya. Pemcam Bayat tidak ada anggaran khusus untuk dana bedah rumah, dan elemen-elemen masyarakat secara swadaya yang didukung komunitas-komunitas peduli sosial, termasuk LazisMuh Bayat dan keterpanggilan para dokter di Klaten alumni Fakultas Kedokteran UNS bisa ditiru. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang harus turun tangan, warga sekitar juga harus peduli dengan turut bantu bergotongroyong bedah rumah ini nantinya,” pesan Camat Edy Purnomo.  (hakim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *