Hikmah Pandemi Covid-19, Guru Bisa Tingkatkan Penguasaan IT

Oleh: Maisyaroh Mayasari, S.Ag
Guru MTs Sunan Pandanaran, Sleman, DIY

Dunia internasional berduka, termasuk negara tercinta Indonesia. Betapa tidak? Sekitar tanggal 17 November 2019, seluruh penjuru dunia dikagetkan dengan merebaknya virus berbahaya dan mematikan bernama virus Corona atau Covid-19.

Maisyaroh Mayasari

Diduga akibat kebocoran senjata biologi yang sedang dilakukan para ahli di Wuhan, Cina. Tercatat ada 4.872.295 orang terpapar positif dari 213 negara di dunia yang terkena wabah pandemi virus Corona dan dari data yang ada, tercatat ada sekitar 319 ribu jiwa yang meninggal dunia dan warga yang sembuh tercatat ada 1,79 juta.

Nah, akibat pandemi virus Corona ini, berdampak di segala lini kehidupan, baik di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kehidupan beragama, perbankan, usaha jasa, sosial budaya dan bidang lainnya. Semua sangat merugi dan dampaknya sangat dirasakan, terutama bagi kalangan warga yang terkena PHK (putus hubungan kerja) dan orang-orang yang selama ini hidup di bawah kemiskinan.

Termasuk pula berdampak bagi kalangan pondok pesantren yang juga memiliki lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) yang berada di Jalan Kaliurang Km 12,5, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Pesantren ini dirintis dan didirikan oleh Almaghfurlah KH Mufid Mas’ud Al Hafidz (alm) sekitar tahun 1970-an.

Saat ini, PPSPA yang dikenal sebagai gudangnya pencetak santri hafal Al Quran 30 juz ini, diasuh oleh KH Mu’tashim Billah atau Gus Tasim. Pesantren ini mengelola Paud, TK/RA, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan STAISPA (Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran).

Apa hikmah dari wabah pandemi Covid-19 ini? Tentu sesuai arahan pemerintah, masyarakat diminta bisa menjalankan protokol kesehatan agar terhindar dari virus mematikan ini, seperti sering cuci tangan pakai sabun, memakai masker ke manapun, menerapkan social distancing dan physical distancing (jaga jarak) dan tetap di rumah saja atau stay at home.

Para guru MTs Sunan Pandanaran juga termasuk terkena imbas dengan menerapkan sistem pembelajaran di rumah atau work from home (WFH). Sleman termasuk zona merah, sehingga tidak menjadi hal baru manakala ada sejumlah kampung atau gang perumahan menerapkan sistem lockdown mandiri.

Salah satu hikmah yang bisa diperoleh dari pandemi Covid-19 ini, para guru lebih sering bergaul dan mendidik putra-putri sendiri di rumah sambil melakukan WFH. Para santri yang selama ini belajar di pesantren atau madrasah yang dikelola pesantren, secara otomatis juga bisa lebih leluasa belajar di rumah dengan pengawasan orangtua.

Hikmah lainnya, para guru dituntut bisa lebih menguasai teknologi dengan penguasaan sistem KBM atau kegiatan belajar mengajar menggunakan daring atau google classroom. Semua guru madrasah dituntut melek IT dan bisa lebih mematangkan diri dalam penguasaan IT, khususnya aplikasi sistem daring.

Kerinduan para guru kepada para siswa untuk kembali bertemu dalam KBM secacar langsung, memang sangat terasa. Maka terkadang dengan kecanggihan teknologi, yang jauh pun bisa dekat dengan cara melakukan video call grup. Artinya seorang guru bisa melakukan tele bicara dengan lebih dari satu siswa.

Adanya pandemi Covid-19 ini, diharapkan bisa segera berakhir, seiring berakhirnya bulan suci ramadhan 1441 H. Penulis sendiri tinggal di Kabupaten Klaten yang juga masuk zona merah, berjarak dari rumah sekitar 25 km menuju MTs Sunan Pandanaran Sleman, dengan tetap melakukan WFH dan protokol kesehatan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *