Kerbau Bule Ramaikan Tradisi Adat Budaya Suro di Pandanan Soropaten

KLATEN – Ribuan warga masyarakat menyaksikan acara kerbau bule atau kebo bule keturunan kerbau kiai slamet milik Kraton Solo dalam gelaran kirab tradisi bersih Dusun Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, Minggu siang, 9 Oktober 2016.

Tradisi Adat Budaya Suro tahun 1950 (Jawa) atau 2016 Masehi ini dihadiri Bupati Klaten Hj Sri Hartini SE, Wakil Bupati Klaten Hj Sri Mulyani, Camat Karanganom Slamet Samudra Karyadi bersama istri, Danramil 14/Karanganom, Kapolsek Karanganom, Kepala UPTD Pendidikan Karanganom, dan para pejabat lainnya.

Kepada wartawan, salah satu tokoh Desa Soropaten, Sri Nugroho menyatakan, salah satu tujuan digelarnya acara tradisi adat budaya Suro ini untuk tetap nguri-uri warisan leluhur yang adiluhung. Dan yang terpenting pula, masyarakat bersama-sama berdoa agar desa ini bisa diberikan keberkahan dari Allah SWT.

soro1“Memang benar, acara tradisi tahunan setiap bulan Suro atau Muharram ini bertujuan untuk nguri-uri budaya. Dan juga menjadi salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi warga di sini,” ujar Sri Nugroho mantap.

Dikisahkan, tradisi adat budaya Suro di Pandanan diawali dengan terjadinya wabah penyakit pes sekitar tahun 1921 sampai 1926 Masehi yang telah merenggut 80 orang korban jiwa warga meninggal dunia.

Kejadiannya unik dan membuat ketar-ketir warga, yaitu jika ada seseorang mengalami sakit di pagi hari, maka seseorang itu di sore harinya meninggal dunia. Dan apabila sakitnya di waktu sore harinya, maka paginya meninggal dunia.

Kata Nugroho, dengan melihat keanehan dan hal yang merisaukan ini, maka Eyang Karsa Redja yang kala itu menjadi sosok kasepuhan desa, mengadakan laku ritual dengan memohon petunjuk kepada Allah SWT. Bencana yang menimpa warga Pandanan bisa dijauhkan dan terlepas dari segala musibah.

Dan atas izin Allah SWT, dengan berbagai upaya dilakukan, permintaan dan segala doa warga bisa dijauhkan dari segala musibah dapat berhenti dan tidak muncul korban jiwa kembali. Warga pun senang dan membuat wujud atau bentuk tasyakuran.

“Untuk mewujudkan rasa syukur tersebut, kemudian warga menggelar acara wujud syukur seperti pawai budaya untuk bersih dusun, pentas pertunjukan wayang kulit semalam suntu. Dalam pawai atau kirab budaya juga ada kirab kebo bule keturunan kerbau kiai slamet Solo, ada sejumlah gunungan hasil bumi, ada penampilan ibu-ibu PKK, seni reog, dan wayang kulitnya digelar Selasa malam (11/10),” jelas Sri Nugroho.

soro4Dari pantauan redaksi, tradisi adat budaya Suro yang kini digelar setiap tahun tanggal 8 Suro penanggalan Jawa. Semarak acara ini memang terasa sekali, seperti ada puluhan kelompok pengibar bendera, regu Drumband dan Marching Band dari sekolah TK, SD, SMP dan SMTA sekitar.

Disamping itu juga prajurit bersenjata (Jawa), kelompok masyarakat, Paguyuban Kawula Surakarta, kelompok Wayang Orang dan lain-lain, juga kirab empat gunungan hasil bumi yang dipersembahkan oleh warga sekitar juga ambengan lengkap dengan ingkung ayam dan lauknya.

Bupati Klaten Hj Sri Hartini menyatakan senang dengan semangat warga dalam mendukung tradisi adat budaya Suro di Desa Soropaten, tepatnya di Dukuh Pandanan ini. Tradisi adat budaya Sura ini menurut Hj Sri Hartinim, memang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan.

Karena kegiatan ini selain sebagai wujud syukur pada Allah SWT, juga mempunyai banyak manfaat dan kandungan yang ada di dalamnya bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, budaya, pendidikan, maupun lainnya.

Saat menuju lokasi acara, tampak Camat Karanganom Slamet Samudra Karyadi bersama istri mendampingi Bupati dan Wakil Bupati Klaten naik dokar atau kereta kuda. Hal ini membuat suasana kirab budaya tradisi adat budaya Suro di Pandanan semakin gayeng.

“Kita tetap dukung tradisi adat budaya Suro di Pandanan ini, jangan sampai berhenti. Tahun depan bisa digelar lebih meriah lagi dan warga masyarakat, tak hanya dari desa Soropaten, ternyata warga dari luar desa, luar kecamatan, juga banyak yang senang, terhibur dengan tradisi adat ini,” pesan Bupati Klaten Hj Sri Hartini.

soro3Hal senada juga disampaikan Wakil Bupati Hj Sri Mulyani yang mengaku sering menghadiri acara tradisi adat budaya Suro Pandanan yang memang sudah tertanam di sanubari warga masyarakat. Dengan adanya kerbau bule yang merupakan keturunan kerbau “Kiai Slamet” yang bisa dikirab mengeliling kraton Surakarta, menurut Wabup Hj Sri Mulyani juga bisa menjadi penyemangat warga menyaksikan tradisi ini.

Bahkan juga sejumlah mahasiswa UGM yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) di Karanganom ini juga ikut memeriahkan. Adanya seni reog dan drumband dan puncaknya ada wayang kulit semalam suntuk, dipandang akan mampu mengangkat semangat  warga Pandanan dalam membangun desa.

“Tradisi adat budaya Suro Pandanan ini luar biasa meriah, dan semangat warga dalam mensukseskan tradisi ini juga jangan sampai berhenti di acara ini saja. Akan tetapi juga tetap berkobar di setiap sanubari warga dalam memajukan dan membangun Dukuh Pandanan yang ada di Desa Soropaten ini. Warga tetep guyup mbangun deso,” ujar Wakil Bupati Hj Sri Mulyani. ¬†(hakim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *