Puluhan Hektar Lahan Jagung di Desa Jatipuro Trucuk Diserang Hama Bule

KLATEN – Nasib petani memang tak menentu, kadang mendapatkan untung, dan sebaliknua buntung. Seperti yang dialami Marsidik (47 th), Kaur Umum Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Klaten, yang gigit jari yang gagal panen jagung jenis “Kapal Terbang”.

Saat ditemui di Balai Desa Jatipuro, Senin pagi (10/10), Marsidik mengaku telah menanam jagung tersebut di luasan lahan 0,5 hektar atau 2 patok di lahan pertanian Desa Jatipuro di akhir bulan Agustus 2016.

Harapannya bisa panen, namun karena adanya serangan hama atau penyakit bule yang mengganas dengan ciri daunnya berwarna putih kekuning-kuningan, pertubuhan kerdil dan tak berbuah.  Karena sudah parah, maka jagung para petani banyak yang gagal panen dan petani pun akhirnya gigit jari.

jagung1“Kalau sukses tak ada serangan hama, biasanya 4 bulan sudah panen, tapi karena terserang hama bule ini, terpaksa akan saya cabuti batang jagung. Petani itu susah, kalau saya ganti padi, serangannya burung emprit. Repot jadi petani, saya terpaksa menunggu lahan kanan-kiri jagung. Biar tanamnya kompak, rekoso kalau nggak kompak tanam padinya,” jelas Marsidik yang mengaku kerugian per patoknya Rp3 juta.

Selain Marsidik, ada sejumlah petani yang gagal panen jagung jenis “Kapal Terbang” ini, antara lain Ngadimo 1 patok, Martono 1 patok, Mbah Kasno Sudarmo 1 patok, dan petani lainnya. Rata-rata memang sudah mencoba dengan berbagai obat dengan disemprotkan ke batang jagung. Hasilnya antisipasi juga nihil dan petani sudah menthok usahanya.

Tuhan bicara lain ternyata. Kegagalan atau kerugian yang harus ditanggung para petani. Kata Marsidik, para petani sudah berusaha nyemprot hama pakai obat, tapi tumbuhnya tetap kerdil dan tak bisa berbuah. Para PPL Dinas Pertanian Klaten juga kebingungan tak bisa menjawab kasus serangan hama penyakit bule ini.

Sementara itu, Kepala Desa Jatipuro L Budhi Andrianto SH membenarkan adanya serangan hama penyakit bule sejak bulan Juli 2016 lalu. Ada 20-an hektar lahan pertanian yang ada di wilayah pertanian Desa Jatipuro terserang hama penyakit bule ini.

Petani jagung yang menanam jagung dan gagal panen ada di wilayah Dukuh Gesing, Brongkol, dan Sumyang, Desa Jatipuro. Sementara Dukuh Jatirejo, Jetipuro, Karang Pucung, Bulu Wangi, dan Bodro Rejo, aman dari serangan hama penyakit bule.

Karena para petani dukuh tersebut tetap menanam padi. Total petani Desa Jatipuro yang menanam jagung ada 35 hektar, diantaranya 20 hektar terserang hama penyakit bule dan sisanya bisa panen dengan hasil tidak maksimal ada 15 hektar.

“Para petani tak bisa ngapa-ngapain, bisanya menunggu para petani jagung yang selesai panen pertengahan Nopember 2016. Biar tanam padinya nantinya bisa serentak dan dijauhkan dari serangan hama. Kalau ditonton musim seperti ini, di lahan pertanian Jatipuro biasanya serangan burung emprit. Petani bisa bersabar dan siap tombok terus, tak gampang jadi petani,” ujar Kades Budhi Andrianto didampingi Agus Yurianto, Kaur Keuangan Desa Jatipuro.

Agus sendiri juga mengaku, bisa panen jagung di saat bulan Nopember 2016 mendatang, tapi tidak maksimal. Lahan 4 patok jagung yang ditanamnya hanya bisa tumbuh berkembang dan siap panen hanya 1 patok.

Musim yang tak menentu ini, para petani tetap mendapat keuntungan, tapi justru sebaliknya kandas. Agus mengaku telah mengeluarkan modal menanam dan perawatan jagung ini sekitar Rp7,5 juta.

jagung2Hal senada juga dikatakan Martono (57 th), petani yang menangis akibat tanaman jagung jenis P21 gagal panen karena diserang hama bule. Dia mengerjakan lahan sawah ayahnya, Ngadino Mangun Karsono (86 th), seluas 2300 meter, tapi jagungnya tak bisa tumbuh alias kerdil tak berbuah.

Martono ini tinggal di Dukuh Gesing RT 1/RW 4, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk. “Nyatane rekoso, kami mohon Dinas Pertanian Klaten bisa membantu para petani yang gagal panen jagung ini. Secara teori ikut konco-konco petani. Pupuk sudah dobel, nyatane malah gagal panen. Akar jagung kalau dicabut juga rontok dan berkelip-kelip seperti pospor,” ujar Martono.

Diakuinya, bulan Juli 2016 lalu, bersama petani Gesing, kompak menanam jagung dengan jumlah 11 kampil atau 11 kg benih jagung. Untuk antisipasi hama penyakit, dirinya sudah menggunakan pupuk sekitar 3,5 kuintal. Karena gagal panen, petani menjadi malas bekerja di sawah dan hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pihak PPL Trucuk, jelas Kades Budhi, tak bisa mencegah atau mengantisipasi serangan hama penyakit bule ini. Dan kalau ditanya hanya belum ada jawaban terkait resep atau obat hama bule ini. Para petani berharap, ahli pertanian bisa memberikan solusi terbaik, jangan sampai ratusan hektar jagung lainnya bisa terserang hama serupa di desa lainnya. (hakim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *