Sutarno, Penjual Siomay Ikan di Selatan Lapangan Kalikebo

KLATEN – Gara-gara dikejar-kejar petugas atau aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di sekitar Objek Wisata Ancol, Jakarta Utara, Sutarno (64 th), penjual siomay ikan yang asli warga Beluk RT 03/RW 02, Bayat, Klaten, terpaksa pulang ke rumah 5 tahun lalu atau tahun 2012.

Sosok pedagang siomay yang ulet ini berada di Jakarta selama 5 tahunan atau sejak tahun 2008 dengan melakukan kerjasama atau bergabung dengan pedagang siomay dari daerah lain.

Dikisahkan, suatu ketika ada gropyokan operasi ketertiban Satpol PP secara tiba-tiba di daerah Ancol, dan seringkali operasi digelar, dirinya bisa melarikan diri dari kejaran petugas. Operasi aparat ke pedagang asongan, termasuk pedagang siomay yang naik sepeda onthel.

suimay2“Teman saya, pedagang siomay dari Pekalongan ada yang ketangkep. Sepeda onthel dan menu siomay yang masih lengkap itu ke atas truk mobil petugas. Saya kan jadi khawatir dan trauma. Karena kurang tenang atau tentram, takut terkena operasi petugas ketertiban, saya pulang kampung saja,” jelas Sutarno sambil matanya berkaca-kaca mengenang masa lalu.

Menjadi pedagang di Jakarta harus tahan banting dan siap kapan saja terkena razia. Di Jakarta memang sangat tertib dan di berbagai titik larangan yang banyak pelanggan, justru dilarang jualan. Maka tak heran jika aparat melakukan penertiban pedagang yang nekat jualan di daerah larangan.

Dari pernikahannya dengan Veronika Sukarni (55 th), Sutarno dikaruniai 1 putri, yaitu Lina Dewi Wulandari yang sudah menikah dengan pemuda dari Balong, Paseban Balong. Kata Sutarno, menantunya, Dwi Wahyarto, bekerja di jasa internetan atau pasang internet.

Alumni SD Kanisius dan SMEP Bayat ini, mengaku bermodalkan Rp260 ribu untuk mengemas menu siomay ikan tiap harinya. Kalau soal keuntungan tiap hari, Sutarno nggak pernah menghitungnya. Dirinya punya prinsip selalu mensyukuri apa yang didapat dan tidak ngoyo raih keuntungan.

Sejak pagi, Sutarno mempersiapkan kentang untuk dimasak sejumlah 1,5 kilogramnya, juga memasak tahu yang dibeli seharga Rp20 ribu di pasar. Dengan naik sepeda motor, Sutarno meluncur ke Sembung, Wedi tiap sore untuk beli bahan, termasuk ikan golok dan tengiri.

“Kalau sore saya beli ikan golok dan ikan tengiri di Sembung, lalu saya masukin ke kulkas. Dan pukul 04.00 WIB, saya olah menjadi adonan dan diaduk-aduk selama setengah jam,” ujarnya sambil melayani pelanggannya di sekitar lapangan Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Senin petang, 29 Agustus 2016.

Dari pantauan redaksi, Sutarno sudah terlihat ngetem atau mangkal jualan siomay ikan tengiri dan ikan golok di selatan Lapangan Desa Kalikebo Kecamatan Trucuk, antara pukul 14.00-15.00 WIB. Biasanya jualan di situ sampai maghrib, tapi kalau pas gayeng, sebelum maghrib sudah habis bahannya.

Para pelanggannya relatif dalam memesan per porsi siomay. Ada yang per porsinya Rp4 ribu, Rp5 ribu, Rp7 ribu, Rp8 ribu dan ada yang Rp10 ribu. Dalam mengemas siomay ini, paling susah ngaduk adonan ikan tengiri dan ikan golok biar terasa kenyal-kenyal siomaynya.

Sutarno mengakui dirinya pulang juga karena ingin dekat dengan keluarganya dan bisa momong cucu. Karena sudah merasa tua, Sutarno kadangkala libur satu sampai dua hari. Hal ini untuk menjaga kesehatan, bahwa jualan siomay ini hanya sakdermo saja.

Salah satu pelangganya, Ibu Mamiek (40 th), guru TPA Al Hidayah Padasan, Gununggajah Bayat, mengaku selalu setia menjadi pelanggan siomay Pak Sutarno ini. Katanya, selain soal rasanya yang gurih, juga mantap di lidah.

“Tadi pas lewat saja, dan kalau sempat, ya pasti mampir. Soalnya kalau sudah sore, harus antre, banyak pelanggan yang datang ke sini. Rasanya gurih, enak, ini saya beli 2 porsi,” ujar Mamiek yang tinggal di Desa Gununggajah. (ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *