Panen Lombok Jeblog, Kades Ketandan Ternak Ikan Lele Dumbo dan Sangkuriang

KLATEN – Sebagai seorang enteprenuership, Kepala Desa (Kades) Ketandan, Kecamatan Klaten Utara, Klaten, Hefi Sudarmawan alias Bang Wawan, merasa optimis dalam setiap melangkah, baik dalam pemerintahan desa, bermasyarakat, berorganisasi dan di dunia wiraswasta.

Selama ini, selain menjadi nakoda Desa Ketandan, Bang Wawan ini juga dikenal sebagai seorang petani tangguh dan tak kenal lelah. Bersama istrinya, Sri Landarni SPd yang dinikahinya tahun 2000, selain menjadi Kades, juga ulet dalam mengelola usaha pertanian.

Kisaran 3 bulan ini, nasib apes menimpanya saat tanaman lombok yang dikelolanya mengalami kerugian, hal ini karena harga lombok yang dipanennya jatuh alias jeblog. Katanya kalau menanam lombok harus fokus dan tidak bisa disambi, sebab tanaman lombok itu punya kekhasan tersendiri.

“Panen lombok 3 bulanan lalu cuma balik modal hasilnya, ya saya untuk saat ini berhenti menanam lombok. Saat ini, saya menanam jagung 1 patok dan 3 patok lagi ditanami padi. Ada yang saya olah sendiri dan ada yang digarap petani,” ujar Wawan.

Untuk menambah penghasilan, atas dukungan istrinya, Kades Ketandan ini mengelola usaha sampingan, berupa pembibitan dan jual beli ikan lele dumbo dan sangkuriang. Katanya, saat ini harga ikan lele memang bagus ditekuni dan warga juga setiap hari membutuhkan.

Dari pengamatan wartawan, setidaknya ada 5 kotak kolam ikan lele yang masing-masing kotak berukuran 2×3 meteran. Ada 1 kotak kolam untuk indukan ikan lele sangkuriang dan lele dumbo. 1 kotak kolam untuk bibit ikan lele usia 1,5 bulan sejumlah 15 ribu yang harga per ikannya Rp250 dengan panjang antara 6 sampai 8 cm.

Untuk 1 kolam ikan baru berusia 3 mingguan sejumlah 15 ribu bibit ikan lele sangkuriang. 1 kolam lagi untuk bibit ikan lele dumbo berusia 2 bulanan yang panjangnya 9 sampai 10 cm dengan harga Rp300/ikannya. Masih ada lagi 5 kotak kolam kecil ukuran 1×3 meteran untuk penetasan telur ikan lele dumbo dan sangkuriang.

“Saya juga menyiapkan ikan yang siap konsumsi dan kita jual Rp20 ribu per kilogramnya. Untuk harga bakul dengan langsung pembeli ke sini memang beda. Antara bakul yang kulakan partai besar dengan eceran jelas berbeda. Saya tetap melayani pembeli eceran ke rumah, kalau partai besar juga bisa, yang penting bisa ajeg,” jelasnya.

Selama ini untuk harga ikan lele di pasaran bisa mencapai Rp21 ribu sampai Rp22 ribu per kilogramnya di pasar Klaten. Bahkan saat lebaran kemarin, harga ikan lele per kilogramnya bisa tembus Rp25-26 ribu.
Selama ini, Kades Wawan mengaku telah memiliki bakul langganan atau pengepul ikan lele maupun ikan lele sangkuriang, yaitu Pak Yuli yang tinggal di utara lapangan Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom.

Salah satu pengalamannya dalam mengelola pembibitan ikan lele ini, pakannya tak hanya pelet. Akan tetapi ada takaran khusus agar bibit ikan lele yang kekenyangan tak mati usai menyantap pakan. Sejumlah peternak ikan lele mengeluh, sebab ikan lele setelah makan, selang satu dua hari mati dan hal ini ternyata faktornya pakan ternak. Dan perlu dipertimbangkan, bagusnya air kolam ikan lele dibiarkan keruh.

“Salah satunya, kita berikan campuran pelet dengan 1 sendok susu, 1 sendok madu dan 1 sendok gula. Lalu diracik menjadi butiran kecil-kecil. Pakan diberikan dua kali, pagi dan petang hari. Insya Allah ikan lelenya tidak mati, gemuk dan cepat besar, ya otomatis bisa dipanen lebih cepat,” ujarnya.

Bagi pembaca kabarepiye.com atau warga yang tertarik pingin belajar atau mau membeli ikan lelenya, bisa menghubungi Kades Ketandan ini di kantornya. Atau bisa juga langsung menemuinya di kediamannya di Dukuh Cantelan, Desa Ketandan, Kecamatan Klaten Utara, atau 250 meter timur pabrik panili Ketandan, bisa sore hari atau pagi hari. (ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *