Upacara Hari Jadi Klaten ke-212 Tak Khidmat, Terganggu Awak Media Massa Berseliweran

KLATEN – Peringatan Hari Jadi Klaten ke-212 yang dipusatkan di Alun-alun Klaten dinilai banyak pihak kurang khidmat. Meskipun pembina upacara peringatan Hari Jadi Klaten ini dipimpin langsung oleh Bupati Klaten Hj Sri Hartini SE, suasana kurang nyaman sangat dirasakan peserta upacara.

Peserta apel peringatan Hari Jadi Klaten ke-212 yang mengenakan baju adat jawa, beskapan bagi laki-laki dan kebaya bagi perempuan di jajaran SKPD/Dinas/Kantor, kepala desa/lurah, perangkat desa/kelurahan, dan unsur lainnya, melihat awak media atau wartawan yang berseliweran mengambil gambar atau jepret di lokasi upacara, dinilai sangat mengganggu.

Hal ini dikemukakan salah satu perangkat desa Sekarsuli, Suwarno, kepada wartawan di sela-sela tugasnya di balai desa Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara, Jumat pagi (29/7). Ia mengaku kurang nyaman melihat wartawan yang berlalu-lalang di tengah Alun-alun dengan membawa kamera dan alat shotingan, termasuk pesawat Drone yang terbang di atas langit.

Segenap peserta upacara yang hadir 15 menit sebelum upacara dimulai dengan berusaha tampil prima, merasakan situasi kurang sreg atau kurang nyaman. Sesuai surat edaran, jajaran SKPD atau dinas telah mengirimkan perwakilan 10 orang dan ikut upacara memperingati Hari Jadi Klaten ke-212 ini dengan mengenakan beskapan bagi laki-laki dan kebaya bagi perempuan.

“Dulu saat upacara Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2016 di Alun-alun Klaten, petugas pembawa acara mengumumkan agar para wartawan tidak memasuki lapangan saat upacara. Kesannya kurang beretika, masak ada wartawan yang nyelonong ke tengah Alun-alun mengambil gambar dan berdiri di belakang komandan upacara. Hal ini harus dievaluasi, keberadaan wartawan di tengah Alun-alun harus dievaluasi,” jelas Suwarno.

Hal senada juga disampaikan Kepala Desa Sekarsuli FX Siswanto SH, bahwa para peliput berita atau para wartawan yang meliput atau mengekspos acara peringatan atau kegiatan upacara di Alun-alun, ketika sudah mulai acara harusnya tidak boleh nyelonong ke tengah Alun-alun.

Diusulkan, para wartawan bisa mengekspos atau mengambil gambar dari jauh, atau sejajar dengan barisan terdepan. Kades Siswanto berharap, agenda resmi pemerintah yang digelar di Alun-alun boleh saja diliput wartawan.

“Akan tetapi tetap pada koridor etika artinya saat upacara dimulai tidak boleh ada wartawan atau bahkan staf bagian humas yang masuk Alun-alun hanya untuk memotret. Bisa memotret dengan batas di barisan terdepan pasukan. Atau motretnya diberi kesempatan sebelum mulai upacara,” ujar Siswanto.

Dari kegiatan pemerintah dengan mengenakan baju kejawen ini, rata-rata yang belum memiliki dipastikan menyewa baju kejawen di salon rias temanten atau persewaan baju kejawen. Biasanya jasa sewanya Rp100-120 ribu. Bahkan ada yang membeli baju sorjan Jogjanan dengan harga Rp50 ribu dan blangkonnya seharga Rp25 ribu.

Hal ini, jelas Siswanto, menunjukkan komitmen jajaran abdi masyarakat di SKPD, dinas/kantor di Klaten, setia dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Namun, semangat ini jangan sampai pudar manakala acara resmi menjadi tidak nyaman saat upacara.

Kades Jonggrangan Sunarno SE bersama sejumlah kades dan perangkat desa maupun kelurahan lainnya juga merasakan hal sama. Bahkan saat penandatanganan Matur Ibu, peserta upacara tak bisa melihat gara-gara tertutup awak media massa.

Ibu-ibu yang duduk di ruang kehormatan juga pada selfinan foto pakai hand phone saat pembina upacara memimpin upacara. Hal ini juga perlu diatasi jangan sampai mengganggu dan Sunarno juga mengkritisi munculnya pesawat kecil Drone yang terbang demi kepentingan media yang dinilai juga membuat suasana terganggu. Peserta tidak mendengarkan teks sambutan yang dibacakan Bupati, malahan melihat pesawat Drone yang berputar-putar di atas langit.

“Kesannya kurang khidmat dan harus dievaluasi. Kita tak kecewa dan melarang wartawan meliput, cuma perlu diatur sistem peliputannya. Mungkin pembaca acara perlu mengingatkan wartawan sebelum acara dimulai, agar tak berseliweran di tengah Alun-alun. Wawancara bisa dilakukan usai upacara,” harapnya. (ms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *